Spoiler for Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, dari pembahasan:
JAKARTA - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, dari pembahasan Panitia Kerja (Panja) A telah disepakati Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (AS) Serikat melemah dari Rp13.400 per USD menjadi Rp13.900 per USD.
Bambang hal ini karena sifat nilai tukar Rupiah yang fluktuatif, oleh karenanya pemerintah harus memperhitungkan jarak yang sesuai. Meski saat ini, Rupiah tengah menguat, bukan berarti secara tiba-tiba Rupiah akan melemah. Menurutnya, masalah Rupiah masih bisa diubah dalam pembahan APBN-P 2016.
"Kesimpulannya karena pergerakan kurs masih fluktuatif, kita ambil konservatif Rp13.900. Nanti kita bisa bahas ini jika disetujui dalam pembahasan APBN-P. Kita tidak mau semua nyesel dan saling menyalahkan nantinya, jika tidak menetapkan Rp13.900," jelas dia di Ruang Rapat Banggar DPR, Jakarta, Kamis (15/10/2015).
Bambang menceritakan ketika kunjungannya ke Peru, di sana kurs masih dinilai dari tingkat suku bunga. Meski demikian, dia mengatakan asumsi ini sifatnya hanya sementara, sehingga ke depannya bisa diubah.
"Sekarang memang Rp13.200 sejam kemudian kurs bisa Rp13.400 hingga Rp13.600. Kesimpulan pergerakan kurs masih fluktuatif. Sebaiknya penguatan kurs dibahas dalam APBN-P 2016," tuturnya.
Spoiler for Harga minyak dunia turun untuk hari keempat berturut-turut karena Amerika Serikat:
NEW YORK - Harga minyak dunia turun untuk hari keempat berturut-turut karena Amerika Serikat (AS) melaporkan peningkatan dalam cadangan minyak mentah yang sudah tinggi, menambah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global.
Seperti dilansir AFP, Jumat (16/10/2015), patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, turun 26 sen menjadi ditutup pada 46,38 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November, patokan global, turun menjadi menetap di 48,71 dolar AS per barel, turun 44 sen dari penutupan Rabu.
Departemen Energi AS mengejutkan pasar dalam sebuah laporan yang menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah komersial negara itu melonjak 7,6 juta barel selama minggu lalu, hampir tiga kali lebih banyak daripada yang para ahli telah prediksi.
Itu membawa jumlah persediaan menjadi 468,6 juta barel, masih mendekati tingkat tertinggi sepanjang tahun ini setidaknya dalam delapan dekade.
Kenaikan (persediaan) jelas bearish untuk harga minyak pada umumnya dan bahkan terlebih lagi untuk NYMEX karena kenaikan 1,1 juta barel di Cushing," kata James Williams di WTRG Economics.
Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan bahwa beberapa bearish telah diperlemah dengan terus menurunnya angka produksi mingguan." Produksi minyak mentah turun 76.000 barel menjadi 9,17 juta barel per hari, menghapus kenaikan pekan sebelumnya.
Data persediaan terbaru AS datang di tengah kekhawatiran pasar tentang membanjirnya pasokan dan pelambatan ekonomi global. Harga minyak telah jatuh setiap hari selama pekan ini karena data ekonomi mengecewakan dari Tiongkok dan AS memperkuat kekhawatiran pelambatan.