MENINGGALKAN DENGAN SENYUM
Mengapa kita takut mati?
Mari kita telusuri dengan hati-hati persoalan ini. Sebenarnya siapakah yang takut mati itu?
Tubuhkah? Tidak, setiap hari tubuh belajar untuk semakin renta. Pada saatnya ia malah terpuruk tak berdaya.
Perasaankah? Tidak juga, setiap detik perasaan datang silih berganti. Ia bagaikan awan yang berubah-ubah bentuk tanpa disadari.
Jika demikian, siapakah yang sesungguhnya takut mati? Apakah sang aku?
Seringkali ketakutan kita akan mati berasal dari tak sederhananya pikiran dalam memandang kematian. Mungkinkah pikiran, dengan aku yang selalu ingin menjadi ada, mampu menjawab sesuatu yang harus meniadakan aku itu sendiri?
Karenanya, lebih sering kematian itu tidak untuk dipikirkan, namun diterima sebagai teman seperjalanan hidup yang selalu membisikkan agar kita selalu berbuat baik bagi hidup. Lebih dari sekedar baik, melainkan yang terbaik-baiknya. Hanya bila kita telah memberikan hidup kita sepenuhnya pada hidup ini, kita berhak meninggalkan hidup ini dengan senyum.