Minyak tertekan setelah data China rilis
Data manufaktur China yang mengecewakan kembali memberi tekanan kepada harga minyak diperdagangan Asia, disamping kecemasan investor terkait dengan pertumbuhan ekonomi.
Setelah tadi malam harga minyak menguat, hari ini kembali anjlok juga dipengaruhi oleh meningkatnya suplai minyak dipasaran dan cenderung rentan jatuh dibawah level psikologis $40 per barrel. Di NYME minyak mentah untuk pengiriman di Oktober diperdagangkan pada $40,92 per barrel turun $0,40 atau 1%. Brent crude turun $0,44 atau 1% menjadi $46,18 per barrel.
Kembali ke data China dilaporkan index purchasing managers, acuan aktivitas manufaktur diseluruh wilayah berada pada angka 47,8 di Juli. Data yang tidak begitu menggembirakan ini menambah kecemasan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi China.
Sejauh ini harga minyak sudah turun pada kisaran 55%-56% dibanding tahun lalu. Volatilitas dipasar equitas China, ketidakmampuan pemerintah meredam pelemahan pasar, devaluadi yuan dan merosotnya harga komoditas akibat ketakutan pasar permintaan dari China akan turun menjadi beberapa faktor yang melemahkan minyak.
Ada beberapa analis yang yakin bahwa penurunan harga minyak sebenarnya sudah mencapai titik jenuh dan sentimen pasar akan kembali melompat ketika harga benar-benar capai titik terendahnya akibat kecemasan akan berlebihnya suplai minyak dipasar.