Penjualan Ritel AS Diluar Dugaan Stagnan
Penjualan ritel AS diluar dugaan tertahan di Juli, menunjukkan penjualan ritel kehilangan beberapa momentumnya di awal kuartal ketiga. Namun dengan pertumbuhan tenaga kerja yang sangat kuat, aktifitas penjualan diperkirakan rebound di bulan-bulan berikutnya.
Departemen perdagangan AS Rabu kemarin mengatakan penjualan ritel stagnan untuk kedua bulanan berturut-turut karena penerimaan di dealer mobil mengalami penurunan, padahal di Juni lalu masih mampu mencatat kenaikan 0,2. Laporan kali ini menjadi yang terlemah sejak Januari. Para ekonom telah memperkirakan penjualan, yang mencakup sepertiga dari belanja konsumen itu, meningkat 0,2 persen bulan lalu.
Ekonomi telah mengalami pertumbuhan pekerjaan enam bulan berturut-turut di atas 200.000. PHK dan pembukaan lowongan pekerjaan kembali ke tingkat pra-resesi. Sementara data sektor manufaktur dan jasa telah menunjukkan ekonomi tumbuh solid.
Namun, tertahannya penjualan ritel bisa memberikan amunisi bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter untuk sementara waktu. Bank sentral AS telah mempertahankan suku bunga acuan ‘overnight’ mendekati nol sejak Desember 2008.
Sementara itu, penjualan yang tidak termasuk mobil, bahan bakar, bahan bangunan dan jasa makanan atau yang disebut penjualan ritel inti naik 0,1 persen pada bulan Juli. Penjualan ini yang paling mendekati dengan komponen belanja konsumen dari produk domestik bruto. Namun, penjualan ritel inti di Mei dan Juni, mengalami revisi penurunan.
Pada bulan Juli, penerimaan di dealer mobil turun 0,2 persen setelah turun 0,3 persen bulan sebelumnya. Penjualan di toko non-ritel, yang meliputi penjualan online juga mengalami penurunan.
Penurunan juga terjadi dalam penjualan furniture, elektronik dan peralatan, dan toko barang umum. Penerimaan di ritel pakaian naik sama halnya yang terjadi pada penjualan di toko-toko barang olahraga dan bahan bangunan dan pemasok peralatan taman.