ILLUMINATA 31
KOPOR ORANG LAIN
Anda menemukan sebuah kopor di teras stasiun kereta. Mungkinkah kopor itu sengaja dibuang? Mungkin kopor itu begitu berharga bagi pemiliknya? Mungkin pemiliknya ada di dalam kereta yang barusan berangkat? Anda memeriksa isi kopor itu, ternyata banyak dokumen berharga dan bahkan sejumlah uang yang cukup besar.
Karena Anda sendiri tidak membawa banyak bawaan, Anda dapat membawa kopor itu dan menyerahkannya di kantor kereta di stasiun berikutnya. Anda putuskan untuk membawa kopor itu, karena Anda tidak yakin dengan kejujuran orang lain yang menemukannya. Anda memilih untuk menanggung beban menemukan pemilik kopor tersebut. Anda merasa bersalah jika tidak melakukannya.
Kala Anda menarik kopor itu ke dalam kereta yang penuh sesak, ternyata kopor yang cukup besar dan berat itu menyita banyak tempat. Bagaimanapun juga, Anda merasa kopor itu begitu penting, karena itu barang orang lain yang ada pada Anda. Ketika Anda pergi ke toilet pun, Anda merasa perlu membawanya serta. Lama-kelamaan, karena makin merepotkan, kopor itu jadi terasa semakin berat. Mulai timbul pemikiran untuk menyerah saja, meninggalkan saja kopor itu, masa bodoh dengan "nasib" kopor itu, toh sebenarnya itu bukan tanggung jawab Anda. Namun, jika bukan Anda, lalu siapa? Bukankah tindakan kebajikan ini sudah separuh jalan?
Ketika Anda kembali berjuang membawa kopor itu, terbersit pemikiran bahwa jangan-jangan kopor itu memang sengaja dibuang oleh pemiliknya. Akankah sang pemilik menghargai dan memberi hadiah? Pikiran jadi makin tidak keruan.
Tiba-tiba, Anda terhenyak, seperti halnya dengan apa pun yang Anda pilih untuk lakukan, Anda tidak akan pernah bisa yakin 100% akan hasilnya. Kenyataannya, hidup Anda pada hari ini sama sekali berbeda dengan apa yang Anda bayangkan tahun lalu. Anda hanya bisa yakin dengan satu hal, yaitu niat Anda, apa yang mendasari Anda untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dalam kasus kopor itu, semata-mata welas asihlah yang mendorong Anda untuk mengambil alih beban orang lain.
Anda sadar bahwa tindakan Anda tidak sepenuhnya tanpa syarat, karena Anda berharap setidaknya mendapat ucapan terima kasih atau ungkapan penghargaan lainnya. Hasrat yang bercampur dengan ketidakpastian ini membuat kopor itu terasa makin berat saja. Sikap "pembedaan", bahwa Anda membawa barang "orang lain", membuat Anda gerah dan tidak rela penuh, sekalipun Anda merasa wajib membawanya. Jika Anda sanggup mengikhlasinya, kopor itu jadi terasa ringan. Anda hanya perlu berdiri di sepatu sang pemilik dan membayangkan keresahannya. Apakah Anda tega untuk tidak melakukan suatu pertolongan yang Anda sanggup lakukan?
Anda menyadari bahwa karena Anda telah memilih untuk membawanya, Anda harus membawanya dengan bahagia. Hasil akhirnya bagaimana tidak terlalu penting. Anda bisa memilih untuk menikmati kebajikan tindakan Anda dalam proses, saat ini juga, alih-alih memusatkan pikiran akan hasil. Itulah sebabnya, tindakan baik atau jasa diukur dengan niat luhur kita, bukan hasilnya.
Berhubung satu-satunya hal yang bisa kita yakini adalah niat baik kita, kebajikan welas asih membawa sukacita tersendiri dan berbuah seketika. Jika kita bisa memetik buahnya saat ini juga, kenapa menunda kebahagiaan kita? Semakin kita mendalami hal ini, semakin siaplah kita untuk mengambil tugas menolong orang lain. Tindakan menolong tanpa syarat tidak akan menjadi beban, malahan jadi sumber kebahagiaan. Dalam melatih kemurahan hati, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Pengorbanan sejati adalah pengorbanan yang tidak terasa seperti pengorbanan.
Jika kita memilih untuk menempuh jalan menolong pihak lain, sesungguhnya kita memilih jalan yang membawa pada kepuasaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Seperti diujarkan oleh Sang Guru:
Segala kebahagiaan di dunia ini,
berasal dari keinginan untuk membahagiakan pihak lain.
Segala penderitaan di dunia ini,
berasal dari keinginan untuk membahagiakan diri sendiri saja.
Jika kita hanya peduli pada bawaan sendiri saja, yang melambangkan kepemilikan duniawi kita, tidak saja kebahagiaan kita tidak bertumbuh, namun justru akan surut karena kebahagiaan itu jadi terbatas. Namun, dalam tindakan membahagiakan pihak lain, kita menjadi berbahagia dengan ikut berbahagia atas kebahagiaan pihak lain dan menuai buah kemurahan hati kita. Bermurah hati kepada pihak lain, dengan demikian juga berarti bermurah hati kepada diri sendiri.
Mana yang Anda inginkan? Sebuah dunia di mana orang-orang tidak peduli terhadap bawaan yang tertinggal atau sebuah dunia di mana orang-orangnya peduli terhadap kebahagiaan orang lain? Dunia macam apa yang tengah Anda ciptakan dengan niat dan tindakan Anda saat ini?
Be happy!
|