Halo 'Agan sekalian.
Kali ini ane mau coba kontribusi di
room ini.
Untuk Oom Momod: Jujur ane ragu apakah ane seharusnya posting thread dengan judul dan pembahasan semacam ini di room ini atau di room
Sports > Racing/Balap. Jadi ane memutuskan untuk sementara ini ane susun thread ini disini. Namun apabila ternyata ane salah room, mohon bagi Oom Momod sekalian untuk memindahkan thread ini ke room yang seharusnya. Terima kasih banyak sebelumnya, Oom!
Sesuai dengan judulnya, kali ini ane akan membahas mitos-mitos yang pernah ada dalam dunia drifting. Sebelumnya ane mau memberikan penekanan bahwa penjelasan yang ane berikan tidak ditujukan secara spesifik untuk jenis kompetisi tertentu. Ane tidak mengacu pada event drift session ataupun bahkan D1-GP (
Grand Prix). Ane memberikan pembahasan dengan definisi
drift secara umum sebagai acuan. Jadi dengan ini ane berharap tidak akan ada pertanyaan-pertanyaan semacam
"Terus kenapa 'nggak ada mobil-mobil 4WD/AWD atau FF/FWD dan MR di event-event D1-GP?" yang terlontar.
Okeh! Terakhir:
The knowledge you're about to gain are meant to applied just in a legal circuit tracks nearby you. On the street; drive safe, obey the laws of the road, always wear your seatbelts.
(Pengetahuan yang akan Anda dapatkan hanya dimaksudkan untuk diaplikasikan HANYA di sirkuit balap resmi disekitar Anda. Di jalanan; berkendaralah secara aman, patuhi aturan lalu-lintas, selalu kenakan sabuk pengaman Anda.

)
[/spoiler][spoiler=open this] for
Mitos Pertama:
Mitos 1: Drifting HANYA bisa dilakukan dengan mobil-mobil yang memiliki 'gardan'/roda penggerak/drivetrain belakang (FR, Front-engined, rear-wheel drive/Rear-Wheel Drivetrain - RWD).
Pada kenyataannya, aplikasi atau penggunaan teknik
drifting paling populer sekaligus fungsional adalah pada cabang olahraga balap
rally... Dimana mayoritas jenis penggerak roda yang digunakan adalah 4WD/AWD (
Four/All-Wheel Drive) dan FWD/FF (
Front-Wheel Drive/Front-engined, front-wheel drive). Bila kita menilik sedikit ke belakang,
Kunimitsu Takahashi (penemu/
founding father dari teknik
drifting) bahkan masih menggunakan teknik ini dalam ajang balapan JGTC (The All-Japan Grand Touring Championship) tahun 1992 dengan mengendarai Nissan Skyline GT-R (BNR32 - STP Taisan Skyline GT-R).
See? Dari fakta-fakta diatas sudah dapat dibuktikan bahwa ternyata apapun jenis
drivetrain yang dimiliki sebuah mobil, mobil tersebut berpotensi untuk melakukan
drifting. Yang perlu untuk dilakukan selanjutnya adalah membuat penyesuaian, baik penyesuaian dari sisi teknik mengemudi maupun penyesuaian
setting dan atau
tune-up dari mobil tersebut. Pernyataan ini didukung fakta dimana pada mobil-mobil dengan jenis
drivetrain 4WD/AWD masih dibagi kedalam dua jenis, 4WD/AWD berbasis/berdasar penggerak roda depan (
front-wheel based 4WD/AWD) dan 4WD/AWD berbasis/berdasar penggerak roda belakang (
rear-wheel based 4WD/AWD). Sederhananya, kedua jenis ini dapat dibedakan secara
visual dari penampang (
layout) mesinnya: Transversal atau longitudinal. Ditambah lagi fakta dimana mobil-mobil dengan jenis penggerak 4WD/AWD lansiran tahun 1994 hingga sekarang telah dilengkapi dengan fitur yang memungkinkan pengemudi dapat mengendalikan/menentukan apakah torsi dari mesin akan disalurkan (didistribusikan) ke roda depan atau ke roda belakang... Cukup dari dalam kabin. Contohnya adalah fitur
DCCD (
Driver-Controlled Center Differential) yang dimiliki keluarga Subaru Impreza WRX STi. Dalam kasus ini, Yang mungkin perlu untuk dilakukan adalah menyetel-ulang sistem kendali traksi (
Traction Control System - TCS) dan atau kendali stabilitas kendara (
Stability Control - SC) untuk
'mengurangi' tugas mereka dan membiarkan roda tetap dapat kehilangan traksi. Atau, bila mau, 'Agan sekalian dapat langsung mencabut/mencopot alat tersebut dari mobil 'Agan sekalian. (Ane serius nih!)
Berbeda kasusnya dengan mobil-mobil dengan jenis penggerak roda depan. Pada jenis kasus ini, mesin hanya akan menyalurkan torsi ke roda depan. Implikasinya akan menjadi sangat mudah membuat roda belakang kehilangan traksi seperti, contohnya, dengan menarik rem tangan (
e-brake/
emergency brake/
handbrake). Namun permasalahan justru terletak pada absennya (ketiadaan) torsi yang disalurkan ke roda belakang untuk mendorong kembali mobil 'Agan sekalian maju dan keluar dari tikungan/belokan. Bahkan apabila traksi roda depan lebih kecil daripada roda belakang, maka kemungkinan yang paling besar terjadi adalah justru
understeer setiap saat. Dalam kasus ini, salah satu solusi yang bisa dilakukan - dan paling mudah - adalah dengan memperbesar traksi roda depan, terutama saat deselerasi. Namun ini bisa menjadi solusi yang mahal harganya dikarenakan untuk dapat mengekseskusi tindakan tersebut, LSD
(Limited-Slip Differential) mutlak diperlukan. Merubah ketinggian kendaraan (
ride height) lewat penyetelan-ulang suspensi juga berpotensi meningkatkan/mengurangi traksi pada roda. Mengurangi ketinggian/memendekkan bagian depan kendaraan (
front-end) membantu meningkatkan traksi pada roda depan dan mengurangi kecenderungan
understeer dengan roda belakang yang memiliki traksi yang lebih sedikit dikarenakan ketinggian bagian belakang kendaraan (
rear-end) yang lebih tinggi dibandingkan
front-end akan cenderung untuk lebih
oversteer. Kecenderungan yang sama akan ditunjukkan oleh hal sebaliknya, yaitu dengan menambah ketinggian/meninggikan
rear-end terhadap
front-end. Namun kecenderungan yang dihasilkan metode ini berlaku setiap saat, tanpa memperdulikan apakah sedang berakselerasi atau deselerasi. Alternatif solusi lain yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan memperbesar rasio daya redam guncangan (
shock-damping) suspensi depan terhadap suspensi belakang dengan cara melembutkannya (
soften). Dengan begitu, suspensi roda belakang akan menjadi lebih keras terhadap suspensi depan mobil 'Agan sekalian dan roda belakang akan kehilangan traksi lebih cepat daripada roda depan. Hukum yang sama juga berlaku pada tindakan sebaliknya dimana
shock-damping ratio suspensi belakang diperkecil terhadap suspensi depan dengan cara mengeraskannya (
stiffen). Hal-hal ini dilakukan untuk menciptakan efek
rear-suspension bias. Sama dengan LSD, kedua alternatif solusi terkait suspensi ini bisa menjadi mahal harganya apabila ternyata sistem suspensi yang dimiliki mobil 'Agan sekalian tertutup untuk penyetelan-ulang atau dengan kata lain tidak dapat disetel-ulang. Karena itu berarti 'Agan harus mengganti sistem suspensi mobil 'Agan sekalian dengan sistem suspensi yang
adjustable (dapat disetel). Alternatif solusi lainnya - mirip dengan yang telah disebutkan diatas - adalah dengan memperbesar rasio penyaluran tenaga pengereman (
brake-force distribution) roda belakang terhadap roda depan atau sebaliknya, dengan memperkecil
brake-force distribution ratio roda depan terhadap roda belakang.
Rear-brake bias akan mengakibatkan roda belakang lebih cepat terkunci dan kehilangan traksi saat proses pengereman terjadi. Sama seperti apa yang ada pada kasus 4WD/AWD, kelemahan dari alternatif solusi dalam kasus ini ada dimana 'Agan sekalian mungkin perlu untuk menyetel-ulang TCS dan atau SC,
BAHKAN Anti-lock Braking System (ABS) serta
Electronic Brake-force Distribution (EBD) untuk
'mengurangi' tugas mereka dan membiarkan roda tetap dapat terkunci dan kehilangan traksi. Masih sama, 'Agan sekalian juga dapat langsung mencabut/mencopot alat-alat tersebut dari mobil 'Agan sekalian
HANYA bila 'Agan sekalian mau. (Tetep serius nih Ane, 'Gan!)

Mobil-mobil dengan
drivetrain FF/FWD memang memiliki banyak keterbatasan dalam dunia
drifting hingga membuatnya tidak begitu populer. Tapi selama 'Agan sekalian bisa membuat roda belakang mobil FF/FWD 'Agan sekalian kehilangan traksi saat berbelok/menikung dan mempertahankan kendali atas keseimbangan dan kecepatannya hingga keluar belokan/tikungan... Siapa bilang itu bukan
drifting? (lihat lagi definisi
drift secara umum)
Perlu diingat bahwa setelah semua yang dijelaskan diatas, masih terdapat penyesuaian teknik mengemudi yang harus dilakukan dan kemungkinan modifikasi dan atau
upgrade yang tidak ikut dijabarkan.
Jadi dari pembahasan diatas, dapat dikatakan bahwa apabila pun mitos pertama dalam dunia drifting ini benar adanya, mungkin yang dimaksud adalah bahwa drifting
LEBIH MUDAH dilakukan dengan mobil-mobil yang memiliki jenis penggerak roda belakang. Bila pernyataan ini yang timbul, maka mitos tersebut benar adanya.
</div>