The Grudge: Old Lady in White / Ju-on: Shiroi rôjo (2009)
" when one person dies with a deep and burning grudge, a curse is born "
Review & Story: Jika melihat kesukesan yang diperoleh
franchise Ju-On sekarang, Takashi Shimizu mungkin tidak pernah mengira bahwa film kecil yang di tulis dan di sutradarainya itu ternyata mampu menjadi sebuah fenomena horror luar biasa. Ya,
Ju-On tidak hanya sukses menarik perhatian penggemar horror negeri matahari terbit itu saja, namun layaknya kutukan yang menyebar cepat dalam filmnya,
Ju-On yang dua seri awalnya dibuat dalam format
direct to video ini juga dengan cepat menjadi mimpi buruk baru bagi penonton dunia dengan kisah kutukan rumah hantu ala Jepang-nya yang sangat menakutkan, sampai-sampai pada 2004 lalu
Hollywood di bawah bendera
Columbia Pictures pun tidak mau ketinggalan memanfaatkan kepopuleran
Ju-On dengan membuat versi
remake-nya yang dibintangi oleh Sarah Michelle Gellar dimana perolehan
box office-nya terbilang sangat fantastis meraup 187 juta Dollar padahal biaya produksi yang dikeluarkan terbilang sangat kecil, 'hanya' 10 juta Dollar, tidak heran sampai dibuat sekuelnya.
Kini dalam rangka menghormati 10 tahun kesukesan yang diperoleh dua seri
Ju-On buatan Takashi Shimizu, dua orang sineas Jepang, Ryuta Miyake dan Mari Asato yang juga bertindak sebagai penulis dan produser kembali menghadirkan
installement anyar dalam paket dua film sekaligus,
Ju-on: Shiroi Roujo (The Grudge: Old Lady In White) dan
Ju-on: Kuroi Shoujo (The Grudge: Girl In Black). Untuk kali ini saya akan membahas
Ju-on: Shiroi Roujo (The Grudge: Old Lady In White) telebih dahulu.
Walaupun memasang 'embel-embel'
Ju-On pada judulnya, namun secara keseluruhan kisah yang diangkat dalam seri terbarunya ini sama sekali tidak berhubungan dengan kejadian dua seri pendahulunya, namun tetap saja benang merah yang berupa kutukan dendam Kayako ternyata sudah meyebar begitu luas dan ber-efek negatif terhadap kehidupan beberapa orang termasuk salah satu keluarga yang baru saja menghuni rumah barunya. Semenjak pindah ke rumah baru tersebut, putra tertua dari keluarga Isobe ini mulai bertingkah laku aneh dan misterius, puncaknya disaat malam natal, pemuda yang juga seorang mahasiswa ini membantai seluruh anggota keluarganya dengan sadis sebelum akhirnya ia menggantung dirinya sendiri.
Jika dibandingkan dua predesornya, kisah yang ditampilkan dalam
Ju-on: Shiroi Roujo bisa dibilang mengalami penurunan cukup drastis, walaupun tidak buruk namun tetap saja terkesan seperti mengulang kisah yang sudah ada, apalagi dengan absennya dua karakater hantu ikonik Kayako dan anaknya Thosio yang dimana dalam dua seri sebelumnya mampu menjelma menjadi mimpi buruk terbesar bagi para penontonnya. Untung saja
plot yang sederhana dan
predictable tersebut berhasil 'dibungkus' dalam sebuah
plot non-linear maju mundur dan dibagi dalam beberapa
chapter yang diacak sehingga penontonnya mau tidak mau diajak berpikir untuk menyusun ulang adegan-adegan yang sudah di 'acak' untuk mendapatkan cerita yang lebih jelas.
Sisi positif lainnya adalah atmosfer
eerie yang menjadi ciri khas seri
Ju-On rupanya masih berhasil dijaga dengan baik oleh Ryuta Miyake dan Mari Asato.
Setting rumah angker dengan lorong-lorong sempitnya masih menjadi 'senjata' ampuh untuk menakut-nakuti penontonnya, belum lagi penampakan-penampakan para 'penghuni'-nya pada muncul pada saat yang tepat plus musik
score minimalis yang mendukung semakin menambah kengerian yang mencekam, walaupun harus diakui kehadiran para dedemit tersebut cukup mudah ditebak, namun toh hasilnya tidak bisa dipungkiri tetap saja masih sangat efektif membuat jantung penontonnya
copot, apalagi
shocking moment yang terdapat di penghujung film lumayan memberikan efek
disturbing.
So, masih belum bosan dengan
franchise Ju-On? walaupun tidak sehebat pedahulunya, tetap saja kehadiran
The Grudge: Old Lady in White / Ju-on: Shiroi rôjo ini masih terbilang efektif sebagai 'alat senam' jantung anda, walaupun patut disayangkan ketidakhadiran si 'cantik' Kayako cukup berdampak besar pada film ini.
7/10