
27th May 2012
|
 |
Ceriwis Lover
|
|
Join Date: May 2012
Posts: 1,992
Rep Power: 17
|
|
(Indonesia)Proses pembuatan,empu dan etika menggunakan keris
[/spoiler]
Spoiler for open this:
for keris:
Spoiler for open this:
for keris:
Membicarakan Keris dengan segala aspeknya berarti membicarakan tentang kedalaman kompleksitas kebudayaan orang Nusantara khususnya jawa, ungkapan “Curigo manjing warongko jumbuhing kawulo lan gusti” merupakan ungkapan yang demikian dalam tentang prilaku dan pemahaman kehidupan manusia Nusantara/Jawa pada masanya. Sir Thomas Stamfort Raffles dalam bukunya The Hisstory of Java yang dikutip Haryono Haryoguritno dalam bukunya Keris Antara Mitos dan Nalar menuliskan bahwa” Seorang lelaki jawa yang tidak memegang keris ibarat telanjang......”. Koesni dalam bukunya Pakem Pengetahuan Tentang Keris menuliskan “ Walaupun keris bukan benda keramat tetapi tidak sedikit yang dikeramatkan orang”.(2003). Di dalam Babad Brahmana Pande yang disusun RSI Bintang Dhanu Manik menuliskan “ Keris merupakan benda keramat sebagai kelengkapan sesaji upacara”(1998). Dari ungkapan-unkapan tersebut dapat diartikan bahwa keris merupakan bagian dari kebutuhan hidup yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Nusantara pada masa itu.
Keris tidak seperti senjata tradisional yang lain, yang sifatnya agak kedaerahan, keris dapat dikatakan terdapat dan dipergunakan di hampir seluruh pelosok tanah air. Mubirman dalam bukunya Keris Senjata Pusaka menuliskan,” keris merupakan senjata kesatuan budaya Indonesia, dan dapat dikatakan sebagai lambang kepahlawanan Bangsa Indonesia”.(1980). Mas Djomul dalam bukunya Keris Budaya Nusantara menuliskan “para empu pembuat keris zaman dahulu telah mempunyai saham yang besar dibidang menonjolnya kebudayaan Indonesia, sekaligus membantu landasan identitas Budaya Nusantara. Kenyataan lain menunjukan bahwa keris telah dapat mempengaruhi kehidupan manusia di luar fungsi utamanya sebagai senjata(1985)
Keris merupakan karya yang multi material dan multi skill/keahlian, keris merupakan penggabungan seni tempa logam pada bilah, seni kemasan/perhiasan pada mendak, selut dan pendoknya, serta seni ukir kayu pada bagian hulu dan warangkanya. Beberapa unsur tersebut dihasilkan dengan baik oleh tangan-tangan terampil dan digabungkan menjadi karya yang indah, bermutu tinggi yang penuh dengan nilai-nilai simbolnya. Haryono Haryo Guritno dalam bukunya Keris Jawa Antara Mitos Dan Nalar, menuliskan agar menjadi karya yang lengkap secara teknis maupun estetis, bilah keris harus diberi sarung dan gagang atau hulu. Bagi masyarakat jawa, Warongko dan Perabot keris yang lain hampir sama pentinya dengan bilah keris itu sendiri.[1]
Keris berasal dari kata kris, atau riris, atau aris yaitu sesuatu yang kecil runcing dan tajam.Walaupun belum dapat dipastikan kapan pertama kali keris berkembang di Nusantara akan tetapi Keris diperkirakan telah ada semenjak perkembangan seni perlogaman berkembang di Nusantara. Dalam beberapa artefak dan catatan sejarah keris telah ada dan berkembang pada masa awal-awal abad pertengahan, di dalam prasasti rukam berangka tahun 825 saka (907 M) telah dikenal istilah “kris”, di dalam prasasti poh dan prasasti karang tengah tertulis antara lain kata Kres yang diduga artinya keris. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat jawa telah mengenal keris semenjak abab ke-9.
Beberapa prasasti lainya yang memberikan keberadaan keris antara lain: Pada prasasti Kedu yang di buat kira-kira tahun 750 M diterangkan raja keluarga Syailendra memerintahkan untuk membuat keris. Pada patung Rarajunggrang di candi Prambanan ( tahun 910 M) salah satu tanganya memegang senjata katga yang artinya senjata tajam keris. Dalam salah satu dinding relief candi Sukuh yang berangka tahun 1456 tergambarkan suasana dalam besalen penempaan pembuatan keris.
Keris pada mulanya merupakan salah satu kelengkapan upacara ritual (wasi-wasi prakara), dimana keris menjadi bagian dalam upacara terhadap Dewi Sima yaitu dewi kesuburan. Pada masa itu keris merupakan fisualisasi konsepsi lingga dan yoni. Seiring dengan perkembangan kebudayaan di Nusantara, keberadaan dan peran keris terus mengalami perkembangan, dimana awal mulanya sebagai kelengkapan upacara ritual keris merambah pada fungsi-fungsi yang lebih kompleks, sebagian keris menjadi diluhurkan dan diagungkan. Keris menjadi sarana penanda status sosial, keris berperan pula dalam perjalanan politik pemerintahan kerajaan waktu itu, keris sebagai benda keramat yang diagungkan, sebagai sarana religius, senjata perang, penanda angka tahun, benda berharga dan lain sebagainya.
Spoiler for open this:
for empu keris:
Pada umumya terutama di jawa pembuat keris dikenal dengan sebutan Empu, di bali dikenal dengan nama pande atau wangsa pandie,di Sunda dikenal dengan istilah Guru Teupa. David van Duuren dalam bukunya The Kris “Empu merupakan orang-orang yang dianggap suci dan memiliki kedudukan tinggi dimasyarakat”(1998). Mas Ngabehi Wirasoekadga dalam bukunya Misteri Keris menuliskan Empu adalah mahluk/manusia yang memiliki derajat tinggi[2].
Ajaran pandie/empu awal mulanya berasal dari sekte Brahma, ialah sekte yang menempati urutan sangat penting diantara sekte-sekte lainya, pengikutnya bergelar brahmana pandie, pada zaman itu dikenal dengan wangsa brahmana pandie. Lebih jelasnya lagi di jawa setelah agama hindu jatuh ke tangan agama islam,istilah brahmana tidak tampak lagi,tetapi wangsanya masih ada yang sekarang lazim disebut pandie besi,pandie mas dll.
Di Bali wangsa pandie diikat oleh kewajiban moril dan prasasti-prasasti wisama leluhur yang secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan yang lainya dengan istilah wangsa, prasasti yang mengikat mereka yang paling terkenal disebut prasasti “Pustaka Bang Tawang”, mereka memiliki kesepakatan mengangkat empu Baradah sebagai gurunya. Di Bali ilmu kepandean tidak sembarangan orang bisa mempelajarinya karena hanya mereka yang keturunan wangsa pande yang boleh mempelajari, sedangkan di luar bali pandie hanya merupakan profesi saja dan siapapun boleh mempelajarinya dan mereka tidak diikat dalam satu sistem keluarga tertentu.
Empu merupakan seorang yang benar-benar ahli dibidangnya dan memiliki beberapa keahlian yang menunjang proses kreatif dalam penciptaan karya-karyanya, adapun beberapa keahlian khusus yang dimiliki oleh seorang Empu untuk merujuk pada proses kreatifnya adalah
[spoiler=open this] for 5:
Ahli dalam bidang politik
Pada masa majapahit oleh Gajah Mada empu diberi kedudukan tertentu dalam pemerintahan. Seorang empu banyak terlibat dalam percaturan politik dan terlibat didalam strategi kenegaraan dan perang.
Penghargaan khusus dari raja banyak diberikan kepada para empu keris yang mumpuni, mereka diberi kedudukan tinggi, lengkap dengan nama dan gelar kebangsawanan seperti Empu Supo yang disayang oleh raja karena berjasa mengembalikan Keris Sangkelat yang telah hilang dari keraton kemudian diangkat jadi menantu dan diberi gelar pangeran dengan hadiah tanah perdikan atau tanah bebas pajak.
LANJUTAN DIBAWAH GAN
</div>
|