View Single Post
  #2  
Old 7th June 2010
suman's Avatar
suman suman is offline
Moderator
 
Join Date: Jun 2010
Location: Dua dunia
Posts: 2,475
Rep Power: 25
suman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessedsuman is blessed
Default

MANTRA DI LINGKUNGAN KERATON

“MUHAMMAD kang mengku Rasa”, demikian bunyi mantra kaligrafis (rajah penolak bala) di bangsal Kencana Keraton Yogyakarta. Dari sini menjadi jelas, bahwa pengertian dan penerapan mantra tidak hanya diucapkan atau dinyanyikan, tetapi dapat pula “dimantrakan” pada berbagai medium, seperti bangunan (disebut rajah, tertulis dalam aksara Jawa/Arab), pusaka, azimat, gamelan, kereta, bedhaya (misalnya bedhaya Semang), sesaji dengan segala uba-rampe-nya (Gunungan Sekaten, berbagai kakawin, kitab, primbon, babad, serat, yang segala uba-rampe-nya ( Gunungan Sekatenlabuhan), serta benda-bendalain.

Mantra yang awalnya merupakan doa (donga) yang bersifat privat dan vertikal-spiritual –karena diyakini sebagai wahyu Tuhan (dalam pemahaman agama Hindu)– telah berkembang ke sifatnya yang horisontal-kuItural. Dalam pengembangan sifatnya yang kedua ini, mantra dapat menjadi media defensif atau agresif sebagai kanuragan untuk pertahanan diri atau guna-guna, yang keduanya bisa mengandung tujuan positif atau pun negatif.

Mantra di lingkungan Keraton banyak tersebar di berbagai kakawin, kitab, primbon, babad, serat, yang umumnya diselipkan di dalam isi naskah yang beraksara Jawa dengan aksara Arab (pegon). Selain itu, ada yang sudah melekat (built-in) pada pusaka Keraton karena terbawa oleh sejarah pembuatan atau perolehan pusaka itu sendiri.

Sebagai contoh Kumbang Ali-ali yang berbentuk cincin, pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pusaka ini memang kurang diketahui masyarakat umun. Bentuknya sederhana tetapi punya nilai historis tinggi. Sebab cincin itu pemah digunakan Pangeran Mangkubumi ketika masih muda untuk menempa diri. Bersama pendherek-nya, beliau mesu-raga dan olah-kebatinan di sepanjang Kali Pepe, Surakarta. Sesungguhnya latihannya sederhana, cincin dilepas dan dilemparkan ke dalam sungai. Kemudian Pangeran Mangkubumi menyelam mencari cincin tersebut sampai mendapatkannya kembali.

Mengapa Pangeran Mangkubumi gemar berlatih menyelam di Kali Pepe? Kalau dicermati mengandung ajaran yang sangat dalam. Bukankah sungai merupakan sumber hidup bagi semua makhluk di dunia? Air dalam pemahaman Jawa berkaitan dengan rasa. Dengan demikian sebenarnya Pangeran Mangkubumi melakukan olah-rasa untuk menemukan sumber hidup sejati, yang tiada lain adalah Sang Maha Pencipta sendiri sebagai sumber kehidupan adikodrati.

Nama sungainya adalah Kali Pepe. Pepe merupakan perwujudan protes anak manusia menantang sinar matahari. Ini merupakan perlambang niat dan tekad yang kuat untuk ‘maneges’ mencari kehendak Allah yang sejati. Mencari cincin di dalam sungai merupakan sebuah perlambang pencarian sekaligus membentuk raga, agar siap diri sebagai sosok pemimpin dalam menghadapi segala cobaan.

Penyelaman yang demikian lama ketika mencari harus menahan nafas, menutup ‘babahan hawa sanga’ atau berkonsentrasi, bertujuan menemukan cincin yang merupakan tanda ikatan antara Manusia dengan Tuhan Sang Maha Pencipta-Nya. Ikatan batin ini perlu dijaga, sebab dalam pemahaman Jawa huruf pertama aksara Jawa: ‘Ha’ mengandung makna: “Hananira wahananing Hyang”. Bahwa manusia itu ada, sebenarnya merupakan gambaran dari Allah sendiri. Oleh karena itu manusia wajib menjaga citra Allah di dalam dirinya.

Ketika menjalankan laku ini Pangeran Mangkubumi mencoba menyelami substansi makna pitutur-luhur yang termuat dalam tembang lama, seperti ini:

“Urip iku pindha pesate warastra saka gandewa tang pinenthang. Lamun mleset siikii Lesane mbilaeni”.

[Hidup ibarat anak panah yang melesat dari busur yang direntangkan. Jika tidak mengenai sasaran, bisa berbahaya].

Konon, pernah terjadi perdebatan tentang berbagai Kitab Jawa Kuna: Arjuna Wiwaha, Bima Suci, Ramayana, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang direkam dalam Serat Cebolek. Dalam forum itu, Pangeran Mangkubumi datang terlambat karena baru berperang melawan ama-menthek (setan anak kecil yang dipercaya menyebabkan kerusakan tanaman padi). Dengan berpegang pada ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai mantra, beliau dapat mengalahkan raja menthek, yang kemudian mengabdikan diri kepadanya.

Apabila di kemudian hari Mangkubumi dalam kedudukannya sebagai Sultan Hamengku Buwono I bertapa di tengah air di kompleks Taman Sari, baginya air bukanlah sekadar tempat among-suka, melainkan tempat menunaikan laku demi masyarakat petani. Tradisi pembuatan kolam di sekitar istana, juga sudah terlihat di Keraton Plered yang dibangun Sultan Agung pada bagian akhir pemerintahannya dengan membendung Sungai Opak dan Winanga. Sesungguhnya Taman Sari adalah bangunan irigasi dalam konteks peradaban kota pra-industri dalam membangun oriental despotisme yang membuat ketergantungan kaum tani kepada para elite kerajaan.

Mengingat pada zaman Serat Cebolek, Mangkubumi dimitoskan sebagai penakluk raja menthek, kiranya pada waktu pembangunan Taman Sari 25 tahun kemudian, mitos ini masih tetap melekat. Masjid kecil di Taman Sari yang hanya dapat dimasuki lewat lorong bawah air Sumur Gumuling, diperkirakan berfungsi sebagai tempat samadi beliau untuk menjinakkan raja menthek yang telah ditundukkan olehnya.

Menurut hemat saya, deskripsi dan analisis Prof. Dr. Alexander Sudewa dalam Pidato Pengukuhannya itu, perlu kita cermati bersama saat akan melakukan renovasi kompleks Taman Sari dalam rangka kerjasama dengan Pemerintah Portugal.

Dalam konteks mantra lainnya, dapat diilustrasikan dari Kitab Wedha- Mantra, yang masih tersimpan di Museum Sanabudaya. Kitab itu memuat ngelmu kebatinan Kangjeng Sunan Kalijaga. Pada bab “Masaalah Dhikir” yang ada kemiripannya dengan cara penulisan puisi “Tamba Ati’” karya Sunan Bonang, seperti di bawab ini:

“Iki bab masaalah dhikir, iku ana nem prakara. Kang sapisan iku dhikir Suwul arane, tegese dhikir iya anteng ing napas. Kang kapindho iku dhikir Suwul- istilah arane, dhikir iya tegese anyipta gurune, angadeg ana netrane alise. Kang taping telu iku dhikir Istilah -ruk-iyat arane, tegese dhikir iya ilange ‘ilmune. Kang kaping pat iku dhikir Suwul ngeski arane, tegese ilang birahine.Kang kaping lima iku dhikir Suwul- ngiskiyah arane, tegese dhikir iya ilange liyepe kari lengude.Kang kaping nem iku dhikir Nakisbandiyah arane, tegese iya dhikir ngilangake kahanan kabeh, iya kari mung wujudullah, ing dalem isbat Ian ilange alip, iku dadi lah-hu, Ian ilange lam awal, iku dadi lah-hu, Ian ilange lam akhir, iku dadi hu, lan ilange hu, iku dadi ora ana lapale iya ora ana jamane, ora ana tuduhe, iya ora ana maknane, iya mung kari jumeneng ing dzatullah, iya jumeneng kalawan dhewe” *).

Selanjutnya jika kita membuka Kitab Mantra-Yoga, di sana termuat “Aji kadigdayan Kasenapaten”, wasiat Kangjeng Panembahan Senapati Ingalaga Matararam tentang ilmu kekebalan terhadap segala macam senjata api. Untuk mencapai tataran kebal seperti itu harus disertai laku “nyirik wohing dami kinukus” selama 40 hari 40 malam, dengan mantra:

“Salfa llahu ‘alaihi wassalam bis ayar-ayar, akas mimis kandut, kita tobat rambut, kita pasumbon talingan kita, gisig suh, braja ampuh, sira nembaha marang ingsun, hining na’iyat sagedining, hining ma’iyat sagedining, hining ma’iyat sagedining” *).

Sebagimana telah diuraikan, mantra-mantra yang termuat dalam naskah-naskah kuna di Keraton tersebar-sebar di berbagai bagian isi naskah, dan umumnya tertulis dalam aksara Arab. Penelitian yang tuntas, menurut pendapat saya, perlu dilakukan oleh para ahli, bukan sekadar dengan transliterasi dan translasi ke huruf Latin. Tetapi hendaknya dapat disusun sedemikian, sehingga kita dapat menggali dan memahami maknanya. Siapa tahu kelak, isinya bisa menjadi sumbangan dalam mengukuhkan jatidiri bangsa ke depan.

SERAT CEBOLEK: SEBUAH ILUSTRASI

KARENA akhir-akhir ini banyak menjadi wacana dalam komunitas Islam, mungkin ada manfaatnya jika saya mengulas barang sekilas Serat Cebolek karya Kiai Mutamakkin (yang tersimpan di perpustakaan KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta dengan judul: “Suluk Cebolek Gedhe”). Konon, serat ini ditulis R. Ng. Yasadipura I ( 1729-1803 ) -yanf berdasarkan penelitian Riklefs, olehnya diragukan sebagai karya Yasadipura .

Serat ini mengisahkan pertentangan antara ajaran Islam “ortodoks” dengan Islam “heterodoks” (“menyimpang”). Islam ortodoks diwakili oleh Ketib Anom, ahli agama dari Kudus, sernentara Islam heterodoks diwakili Kiai Mutamakkin dari desa Cebolek, Tuban. Dikisahkan, bahwa Kiai Mutamakkin telah mengajarkan “ilmu hakikat” kepada khalayak ramai, ajaran yang dianggap sesat oleh para ulama. Ketib Anom melaporkan hal ini kepada pihak Kerajan Kartasura di Solo. Pengadilan kemudian dilakukan atas diri Kiai Mutamakkin.

Kisah dalam Serat ini, tampaknya lebih memihak para ulama yang mewakili ajaran Islam ortodoks. Tetapi sebuah teks dari desa Kajen, Pati,mengisahkan “serat” yang berbeda, di mana Kiai Mutamakkin justru dipandang sebagai pihak yang benar. Kisah Kiai Mutamakkin ini mewakili pola yang hampir “tipikal” dalam sejarah Islam: pertentangan antara “ilmu lahir” dan “ilmu batin”, ilmu hakikat dan ilmu syari’at, Islam ortodoks dan Islam heterodoks, “serat resmi,’” dan “serat rakyat’. Apakah ketegangan- ketegangan dalam tubuh Islam sekarang ini bisa dilihat, antara lain, melalui kisah Kiai Mutamakkin ini?

Oleh Gus Dur aliran Mutamakin ini disebutnya sebagai model keempat, yaitu model Jawa yang menyatakan hubungan Islam dengan kekuasaan, di mana memposisikan Islam bukan sebagai oposisi, tetapi mengembangkan kultur Islam yang berbeda altematif) terhadap pemahaman kekuasaan yang ada.

Sebagai bahan banding, ada baiknya jika kita membuka Serat “Sastra Gendhing” (Kesucian Jiwa) karya Sultan Agung, naskah yang lebih tua dari Serat Cebolek, yang antara lain memuat bait tembang Sinom:

“Pramila gendhing yen bubrah, gugur sembahe mring Widdhi, Batal wisesaning shalat, tanpa gawe ulah gendhing, Dene ngran tembang gendhing, tuk ireng swara linuhung, Amuji asmane Dhat, swara saking osik wadhi, Osik muiya entaring cipta-surasa “.

Sultan Agung menegaskan” bahwa kesalahan orang dalam mempelajari agama Islam kebanyakan terletak pada kecenderungan untuk mudah dimabukkan oleh arus syariat. Diperingatkan olehnya, bahwa pedoman yang harns diingat-ingat ialah:

“Syariat tanpa hakikat adalah kosong. Sebaliknya hakikat tanpa syariat menjadi batallah shalat seseorang”.

Jadi hakikat dan syariat kedua-duanya penting. Meskipun demikian, hakikatlah yang harus diutamakan, sebab memahami hakikat lebih sukar daripada melihat syariat. Jika orang mengutamakan syariat tetapi meninggalkan hakikat, berarti sarna

dengan mengej ar kulit dan melupakan isi. Ibarat orang memakai baju tetapi tak bernyawa. Demikianlah petunjuk Sultan Agung yang membekali kita dalam ibadah.

Dalam terjemahan bebas, ungkapan di atas berarti demikian:

“Jika syariat sembahyang tidak dituntun oleh kesucian jiwa, maka batallah shalat seseorang. Dan tak ada perlunya orang memelihara hidup kebatinan, apabila tidak berisi usaha mengagungkan Dhat Allah”.

Petunjuk Sultan Agung itu ada persamaannya dengan kritik Prof Dr. Ahmad Syalabi. Dalam bab yang berjudul .’Mempelajari raga tanpa mempelajari jiwa”, sarjana-ulama Mesir dari Universitas Cairo itu mengecam keras ulama-ulama Mesir abad-20, yang secara dangkal melihat semua segi kehidupan beragama dari segi materiilnya saja .

SEBUAH PERENUNGAN

MANTRA tergolong dalam ritual mistik kejawen, yang merupakan cara berpikir fllosofis manusia Jawa tentang hidup, manusia, dunia dan Tuhan. Sinkretisme, simbolisme dan sufisme dalam budaya spiritual Jawa sering disebut falsafah hidup Jawa, sikap hidup yang bertujuan mencari kesempurnan hidup melalui pangawikan (ngelmu) sangkan-paraning dumadi dan manunggaling kawula-Gusti .

Sri Susuhunan Paku Buwono V memberikan pesan spiritual dalam Serat Centhini, sebagai berikut:

“Aywa lunga yen tan wruha, ingkang pinaranan ing purug, lawan sira aywa nadhah, yen tan wruha rasanipun, aywa nganggo-anggo siraku, yen tan wruh ranning busana, weruh atakon tuhu, bisane tetiron nyata”.

Kutipan ini memberikan wawasan batin terhadap sesama, agar berhati- hati dalam menjalankan hidup. Diharap agar tahu betul dari mana dan akan ke mana hidup kita. Dengan kata lain kita harus benar-benar memahami landasan laku mistik kejawen, yaitu ngelmu sangkan-paraning dumadi.

Pesan serupa juga pemah diberikan Sunan Kalijaga yang tersimpul dalam tembang Dhandhanggula seperti di bawah ini II:

“Urip iku ing donyo tan lami, upamane jebeng menyang pasar, tan langgeng neng pasar bae, tan wurung nuli mantuk/ mri wismane sangkane nguni ing mengko aja samar, sangkan-paranipun yen asale sangkan-paran duk ing nguni aja nganti kesasar”.

Pesan tembang di atas menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak lama. Ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera pulang ke rumah asalnya. Karena itu jangan sampai ragu-ragu terhadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan. Pesan ini menunjukkan, bahwa manusia hidup di dunia sekadar “mampir ngombe”, karena suatu ketika akan kembali ke haribaan Tuhan, sebagaimana halnya tumpuan sangkan-paraning dumadi.

Bukankah kedua pesan dalam naskah kuna ini ada relevansinya dengan intro kalimat di awal tulisan ini:

“Sebaik-baik limo adalah Berdoa kepada Allah SWT .”? Agar dengan demikian, kita dapat menangkap makna terdalam dari ungkapan: “Ana-nira, Ana- Ningsun”, serta menjauhi sikap: “Sapa sira, Sapa lngsun”.

Jakarta, 2 September 2003

KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT,

Ttd.

HAMENGKU BUWONO X
Reply With Quote