Ajaran Sraddha yang merupakan dasar keimanan Hindu Dharma dirumuskan dalam Pañca Sraddha, yakni keyakinan terhadap Brahman, para dewa manifestasi-Nya dan Avatara-Nya, keyakinan terhadap kebenaran Atman, roh atau jiva yang menghidupkan semua mahluk dan Atman merupakan percikan-Nya (Brahman/Tuhan Yang Maha Esa) Yang Trancendent maupun Yang Immanet. Sraddha, keyakinan atau keimanan yang ketiga adalah terhadap kebenaran adanya Karmaphala (hukum perbuatan), keimanan yang keempat adalah keyakinan terhadap penjelmaan kembali, Samsara (rebith) dan yang kelima adalah Moksa, yakni kebebasan tertinggi yang mesti dicapai umat manusia, bersatunya Atman dengan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
Ajaran Hindu Dharma tidaklah ada artinya bila tidak diamalkan oleh pemeluknya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seharusnya sebagai mahluk individu, sosial yang hidup bersama menikmati kemurahan bunda pertiwi bersama makhluk hidup lainnya. Semuanya itu dijelaskan dalam ajaran tata susila Hindu Dharma, yang merupakan pedoman yang harus dilakoni oleh setiap umat. Aspek Acara sangat komplek menyangkut berbagai aktivitas keagamaan terutama bidang ritual dengan berbagai kaitannya dan hal ini oleh karena sifatnya berbagai bentuk atau wujud pengalaman ajaran yang kasat mata, maka faktor lingkungan alam dan budaya yang menekankan keharmonisan memberikan rona dan mewarnai perbedaan-perbedaan praktek-praktek ritual/keagamaan.
Demikianlah keanekaragaman dalam bentuk luarnya, namun memiliki satu keragaman dan satu tujuan mewujudkan kesejahtraan jasmani dan rohani serta bersatunya Atman dengan Brahman. Kalimat ini kemudian diformulasikan dan dijadikan motto oleh Sri Ramakrishna Mission, sebagai berikut.
Quote:
"Atmanah Moksartham Jagadhitaya ca"
(merealisasikan Sang Diri, Atman yang tidak lain adalah percikan Tuhan Yang Maha Esa untuk mewujudkan kesejahtraan lahir dan kebahagian bathin (Mahadevan, 1984: 297).
|
Mewujudkan Jagadhita (kesejahtraan lahiriah) dan Moksa (kebahagian yang sejati) adalah tujuan Hindu Dharma dan juga sekaligus pula tujuan hidup manusia.
Dari formulasi di atas, kemudian dikenal tujuan Agama Hindu yang dirumuskan dalam kalimat: moksartham jagadhitaya iti dharmah, yang maknanya melalui ajaran agama untuk mencapai jagadhita dan moksa. Ajaran Agama Hindu bagaikan aliran sungai mengaliri berbagai budaya dan peradaban umat manusia, sejak diturunkan oleh-Nya di lembah sungai Sindhu hingga ke Indonesia dan Bali khususnya, agama ini menyuburkan lembah-lembah kehidupan, peradaban dan budaya umat manusia yang dilalui itu. Agama Hindu menjadi jiwa dari segala aktivitas pemeluknya serta peradaban dan budaya yang mereka anut. Menyatunya antara agama dan budaya, seperti jalinan benang tenun (kain endek Bali), yang menyatu sedemikian rupa dengan keindahannya yang mempesona. Di setiap wilayah yang dialiri oleh ajaran agama Hindu terjadi sinergi yang mempelihatkan identitas budayanya masing-masing, oleh karena itu akan tampak dalam acara Agama Hindu di masing-masing daerah, baik di India (tampak berbeda pelaksananan Agama Hindu di India Utara, Selatan, Barat, dan lain-lain karena faktor budaya pendukung agama tersebut), demikian pula di Indonesia, tampak perbedaan antara Agama Hindu yang dipeluk oleh warga Dayak Kaharingan, Hindu yang dipeluk oleh masyarakat Jawa dan sebagainya yang semuanya memiliki identitas budayanya masing-masing yang memberi warna budaya agama yang berbeda-beda.
Masa Prasejarah
Bali sebagai sebuah pulau kecil di hamparan katulistiwa Nusantara sejak masa prasejarah ikut serta dalam pertumbuhan budaya yang menjadi akar dari perkembangan kebudayaan nasional. Penelitian arkeologi yang selama ini dilakukan di Bali telah berhasil mengungkapkan awal hubungan daerah ini dengan India. Di situs Sembiran telah ditemukan puluhan fragmen gerabah India dengan pola hias rolet, dua buah fragmen tepian gerabah Arikamedu (India) tipe 10, dua buah tepian gerabah tepian Arikamedu tipe 18, sebuah gerabah Arikamedu tipe 141, dan sebuah batu bertulis dengan huruf Kharoshti atau Brahmi. Selain itu, ratusan pecahan gerabah yang dipoles dengan warna hitam kemungkinan juga berasal dari India karena mempunyai kandungan kimiawi dan mineral yang sama dengan gerabah berpola hias rolet tersebut. Perlu dicatat bahwa situs Sembiran dan Pacung di Bali Utara telah menghasilkan temuan gerabah India terbanyak sampai saat ini di Asia Tenggara. Kronologi gerabah India di Sembiran mungkin berasal dari awal abad Masehi atau sekitar 2.000 tahun yang lalu (Ardika, 1997:62).
Pada masa bercocok tanam, dengan memperhatikan tipologi tinggalan beliung persegi di Bali, maka dapat dikatakan bahwa Bali pada masa itu telah mempunyai hubungan budaya yang luas dengan daerah lainnya di kepulauan Indonesia maupun di Asia Tenggara (di antaranya Malaysia, Burma, Kamboja, Thailand, Laos, dan bahkan dengan China dan Formosa). Hubungan yang demikian luas terjadi akibat adanya migrasi yang disebabkan oleh pencarian daerah yang lebih subur untuk kepentingan perladangan. Hal ini ditunjang oleh kamajuan teknologi alat-alat batu dengan beberapa macam tipologi yang dapat dipergunakan dalam pekerjaan khusus seperti pembuatan perahu sebagai alat transportasi laut dalam penyeberangan dari pulau ke pulau lain di kawasan Asia Tenggara (Suastika, 1997:38).
Sejalan dengan penelitian Suastika di atas, kini kepemilikan tanah di Desa Catur, Kintamani, Bangli lebih banyak dimiliki oleh etnis China yang memang mereka diduga telah datang ke Bali pada masa pertama kalinya terjadi hubungan antara Bali dengan China. Di Desa Catur, hingga kini diwarisi adanya pemujaan versi China yang di tempatkan di komplek Pura Desa di desa tersebut. Oleh umat Hindu setempat disebut sebagai tempat memuja Ratu Subandar. Hal yang sama dapat dijumpai di Pura Balingkang, Pura Ulundanu Batur, Kintamani, dan Pura Penataran Agung Besakih. Rupanya sejak zaman prasejarah Bali masyarakat Bali telah bersinergi dengan etnis luar (khususnya China).
Demikian pula pada masa perundagian. Masa perundagian adalah puncak segala kemajuan yang berhasil dicapai yakni merupakan perkembangan lebih lanjut dari masa bercocok tanam. Penduduk yang hidup bergabung dalam suatu desa, sudah berhasil mencapai suatu taraf yang baik dengan penguasaan teknologi yang tinggi seperti teknik pembuatan gera¬bah, kepandaian menuang perunggu. Masa perundagian telah menghasilkan kebudayaan Indonesia asli yang bernilai tinggi ka¬rena dijiwai oleh konsepsi alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat pada waktu itu (Putra, 1987:50).
Kepandaian menuang benda-benda perunggu yang dibentuk menjadi bermacam-macam benda yang diinginkan, dapat disebut¬kan sebuah di antaranya yang ditemukan di Bali yang kini disim¬pan di Pura Penataran Sasih Pejeng, Gianyar yakni oleh masyarakat dinamakan “Bulan Pejeng” atau Nekara. Pembuatan Nekara ini dengan cara cire perdue atau cetakan hilang. Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah fungsi benda tersebut se¬bagai benda upacara keagamaan seperti upacara untuk mohon hujan, di samping ditemukannya hiasan kodok pada bagian bidang pukul¬nya dan juga sebagai genderang perang. (Putra, 1987:51, Ardana, 1982:50).
Pada masa perundagian seni pahat sudah berkembang dengan baik, terbukti dari pola hias kedok muka pada tonjolan beberapa sarkofagus serta arca-arca sederhana dari beberapa desa di Bali. Kemungkinan besar bahwa seni pahat dari masa perundagian inilah selanjutnya menjadi dasar bagi perkembangan seni pahat di Bali setelah Agama Hindu sampai di daerah ini (Darsana, 1997:25). Sejalan dengan pandangan tersebut maka kepercayaan dan budaya pada masa prasejarah Bali merupakan landasan masuk dan berkembangnya Agama Hindu dan pertumbuhan kebudayaan Bali.
Perkembangan Agama Hindu dan Buddha di Bali 1
Tentang sejarah perkembangan agama Hindu di Bali, seperti diungkapkan oleh Swellengrebel (1960:17) sumber utamanya adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh para raja yang banyak jumlahnya baik yang tertulis pada batu maupun pada logam (tembaga). Prasasti-prasasti itu menceritakan para raja yang memerintah dan para menterinya, hubungannya dengan administrasi pemerintahan pusat dan orang-orang di desa-desa, peraturan di bidang keagamaan, aturan yang berhubungan dengan pengairan, perpajakan, dan sebagainya. Sumber lainnya adalah peninggalan purbakala, arca-arca dan artifak-artifak. Berdasarkan ungkapan Swellengrebel di atas maka kehidupan keagamaan di Bali dapat dikaji melalui sumber-sumber tersebut di atas.
Hubungan Bali atau Nusantara dengan India di masa yang silam dapat diketahui dari kitab Ramayana karya Maharsi Valmiki, pada Kiskindhakanða (XL.30) menyebutkan nama Javadvipa dan Saptarajya, yang menurut Nabin Chandra Das (Widnya, 2001) Saptarajya adalah tujuh tempat, yaitu Suvarnadvipa (Sumatra), Kalimantan (Borneo), Sulawesi (Celebes), Irian Jaya (West New Guinea), Bali, Java, dan Malaya (Misra,1989: VI).
Hubungan antara India dengan Bali diungkapkan pula oleh Sarkar (Phalgunadi, 1991:33) termuat dalam kitab Brihatsamhita dan Kathasaritsagara yang membuktikan sudah adanya kontak antara Bali dengan India dalam bidang perdagangan dan agama. Kedua buku di atas menyebutkan nama Bali sebagai Narikeladvipa. Menurut Damais yang dimaksud dengan Bhumi Narikela adalah Pulau Bali yang menurut anggapannnya dapat dibuktikan dari sejumlah prasasti yang ditemukan di pulau ini. Banyak prasasti Bali yang menyebutkan Bali sebagai pulau kelapa. Prasasti Poh (tahun 905 Masehi) menyebutkan “vanua ri rumaksan ring nyu” yang berarti pulau kelapa. Weber (1974:202, 213) menyatakan Brihatsamhita ditulis oleh Varamihira pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi dan Kathasaritsagara ditulis oleh Somadeva pada abad ke-11 Masehi. Di dalam kitab MañjuSri Mulakalpa secara tegas disebutkan nama Pulau Bali. Kitab ini diduga ditulis pada abad ke-7 Masehi (Widnya, 2001:5) yang menunjukkan bahwa saat itu telah terjadi hubungan antara Bali dengan India.
Agama Hindu dan Buddha dikenal sebagai agama yang berasal dari sumber yang sama. Tinggalan prasasti dan arkeologi menunjukkan kedua agama ini hampir bersamaan tiba di Bali. Berdasarkan fragmen prasasti yang ditemukan di Pejeng, Gianyar, Agama Hindu sekta Saiva (Saivapaksa) diduga berkembang pada abad ke-8 Masehi. Fragmen prasasti ini ditulis memakai bahasa Sanskerta dan bila dibandingkan dengan stempel tanah liat yang berisi mantram agama Buddha yang disebut dengan ye-te mantra..... rupanya sezaman sehingga diduga berasal dari tahun 778 Masehi. Pada baris pertama dari prasasti tersebut tertulis: “Sivas.....ddh..... yang tidak mungkin berarti Sivasiddhanta (Ardana, 1982:20).
Data lainnya yang juga dapat menunjukkan sekta Saiva berkembang di Bali pada abad ke-8 Masehi adalah peninggalan purbakala, yakni berupa sebuah arca yang disebut arca Siva yang ditemukan pada sebuah pura bernama Putra Bhattara Desa di Desa Bedahulu (Sttuterheim, 1935:35). Arca ini berasal dari periode Hindu-Balinese Art, yakni dari abad ke-8 Masehi, pada saat yang bersamaan juga ditemukan arca Siva pada beberapa candi di kompleks Candi Dieng, Jawa Tengah (Kempers, 1959: 31). Data yang lebih autentik adalah data prasasti Sukawana A I yang berasal dari tahun 882 Masehi, yakni menyebutkan tiga tokoh agama, yaitu: bhiksu (pandita Buddha) Siva Kangsita, Siva Nirmala, dan Sivaprajña yang membangun pertapaan di puncak gunung Cintamani (Goris, I, 1954: 53). Di sini tidak dijelaskan agama yang dipeluk oleh ketiga pandita itu. Oleh karena ada kata bhiksu yang menunjukkan pandita Buddha dan nama Siva atau barangkali kedua agama itu disatukan (Sivabuddha) seperti pada masa pemerintahan Raja Udayana, karena sejak abad ke-10 Masehi kedua agama itu, yakni Siva dan Buddha menjadi agama negara (agama resmi)(Ardana, 1982:21).
Menurut Goris (1960:98), kedatangan Agama Hindu di Bali dalam dua bentuk, yakni dalam bentuk agama yang dibawa oleh para pandita (priestly religion) dan dalam bentuk kepustakaan (literature), khususnya dalam bentuk epik besar. Dalam epik besar ini, tidak semuanya sekta Saivasiddhanta, tetapi dapat diketahui dan diakui adanya tiga Dewa Brahma, Siva dan Visnu meskipun dalam epik itu ada yang spesifik, yaitu penekanan kepada Sivaistik dan Visnuistik. Dari kepustakaan tersebut diketahui akar dari hukum-hukum dan orang Bali mengetahui ajaran Agama Hindu. Dalam epik Agama Hindu ditemukan banyak Dewa (Brahma dengan Saktinya Sarasvati, Siva dengan Durga, Visnu dengan Sri dan juga Ganesa, Dewa-Dewa yang populer dalam epik), banyak raksasa, dan roh-roh jahat. Di samping itu, terdapat penjelasan tentang persembahan, tempat-tempat pemujaan, dan kalender untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara. Selain itu, juga terdapat upacara-upacara untuk keperluan rumah tangga, upacara pembakaran jenasah (kremasi) bagi orang yang meninggal, upacara siklus hidup dari sejak lahir sampai mati, arti upacara-upacara, dan juga persembahan yang besar. Dalam hal ini Agama Hindu banyak berhubungan dengan ajaran agama asli orang Bali, sehingga merupakan daya tarik bagi orang Bali untuk menjadi penganut Agama Hindu-Bali yang baik. Sebagaimana dinyatakan oleh Goris, seperti tersebut di atas, maka kedatangan Agama Hindu yang dibawa oleh para pandita sangat memungkinkan untuk mendapat dukungan sepenuhnya dari raja-raja Bali yang berkuasa pada masa yang silam. Hal ini terbukti hingga kini masih tampak peranan pandita istana (purohita atau bhagawanta) sangat menentukan dalam kaitannya dengan upacara Yajna yang dilakukan oleh pihak kerajaan. Demikian pula dalam pengembangan susastra Hindu, peranan raja tidak kalah pentingnya. Perkembangan susastra Hindu di Bali, baik dengan media bahasa Jawa Kuna dan Tengahan maupun sastra Bali hingga kini masih berlangsung.
Bersambung ke post berikutnya