View Single Post
  #4  
Old 22nd July 2011
meR's Avatar
meR meR is offline
Moderator
 
Join Date: Apr 2010
Location: home sweet home
Posts: 2,520
Rep Power: 29
meR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important personmeR is very very important person
Default

Solon kemudian membuat suatu peraturan yang berjangkauan luas, yang dirancang untuk mengatur semua wanita dalam masyarakat Athena, sambil meneruskan tradisi patriarkat dalam membagi wanita menjadi ‘yang baik’ dan ‘yang nakal’. Dengan demikian. Kehidupan wanita kelompok yang pertama menjadi semakin terbatasi. Wanita ‘ baik-baik’, khususnya para gadis, harus dikawal, sedangkan yang sudah menikah menjadi pengurus rumah dan tidak boleh bergaul.
Alhasil, warga Athena yang terdiri dari para istri dan calon istri ‘yang terhormat’ , hidup yang hanya bisa digambarkan sebagai tahanan rumah. Mereka hanya diperbolehkan keluar bila ada perayaan atau acara keagamaan atau pertunjukan teater, itupun dengan syarat mereka tetap berlaku ‘sopan’. Merka bahkan dilarang pergi kepasar. Belanja dilakukan pria atau budak yang bekerja dirumah. Mereka tinggal dirumah yang keadaannya cukup seram, karena bagian rumah orang Athena gelap, suram dan kotor dan wanita hanya boleh tinggal diruangan mereka yang jauh tersembunyi didalam, agar tidak terlihat orang asing.
Bila pria membawa tamu kerumah, istrinya tidak boleh menemui mereka, tidak boleh terlihat dan terdengar suranya. Seandainyapun ia diizinkan untuk bergaul dengan pria sekelasnya yang berpendidikan, mereka tidak akan menjadi lawan bicara yang seimbang. Soalnya, mereka hanya diberi pendidikan memasak, menjahit dan ‘memelihara rumah’. Mereka tidak boleh diberakan pendidikan intelektual, karena itu merupakan cirri pelacur.
Dengan demikian wanita tidak memeiliki kekuatan ekonomi dan hukum. Sepanjang hidupnya, wanita ‘terhormat’ ditempatkan di bawah ‘pengawalan para pria’ mulai dari ayahnya, kemudian suaminya. Bila suaminya mati lebih dulu, putra sulungnya yang bertanggung jawab atas dirinya. Mereka tidak boleh memiliki kekayaan, tidak ada hak menerima warisan. Hidupnya benar-benar dikerdilkan, suatu kehidupan yang penuh kekecewaan, kepatuhan dan kesepian. Kisah para istri ‘baik’ warga Athena benar-benar merupakan tragedy Yunani.
Solon membagi wanita menjadi dua jenis: istri dan pelacur. Semua wanita yang berusaha hidup bebas dari pria, semua wanita miskin, orang miskin, orang asing dan para budak yang kerja diluar rumah, disebut Solon pelacur. Dalam banyak kasus. sebutan itu memang jitu, karena wanita yang tidak bisa menjadi istri yang patuh hanya punya sedikit pilihan disamping menjadi pelacur, hanya untuk asal hidup.
Pelacuran mulai tumbuh subur. Tapi Solon yang melihat peluang keuntungan malh mengurus sendiri bisnis pelacur, sehinggga akhirnya rumah-rumah pelcuran negara bertebaran diseluruh Athena. Usaha ini terbukti sangat sukses, sehingga Solon mempunyai kekayaan yang lebih dari cukupuntuk membiayai angkatan perang maha besar.
Konon pelabuhan Pirauspun dibangun dengan keuntungan perdagangan seks yang besar-besaran itu. Sebagai tanda ‘ terima kasih’, Solon membangun kuil yang sangat besar untuk memuja Aphrodite, sang dewi cinta yunani. Kota-kota lainnya misalnya Corinth, yang termashur karena rumah-rumah bordirnya yang mewah, juga dengan cepat mengikuti jejak Solon.
Athena memang surga bagi para pelanggan. Tapi bagi para budak yang bekerja dirumah-rumah pelacuran tersebut, yang biasa disebut diekteriades, kehidupan hampir tiada daya tarik. Kebanyakan mereka adalah para tawanan perang berasal dari Asia, kemudian ditambah dengan para wanita yang dibeli para pegawai negara di pasar budak. Mareka tinggal dikamar-kamar yang mirip dengan sel penjara. Sama seperti istri yang patuh, mereka juga tidak mempunya kekuasaan atasdiri mereka sendiri. Para pelanggan tidak membayar langsung kepada mereka, tapi kepada pronobosceion, seorang pejabat pria yang mengelola rumah-rumah bordil sebagai perusahaan setengah swasta dan setengah milik negara. Para pelacur kemudian berusaha mengemis persenan pada para pelanggan, tapi itupun masih dikenai pajak oleh Solon yang pintar dan rakus.
Menyebut para wanita itu sebagai pekerja rumah bordil, tidaklah tepat. Mereka adalah para budak seks. Mereka adalah sisi lain dari mata uang perkawinan, karena seperti para istri, mereka pun menjadi korban dari jebakan Solon. Bila seorang istri menjadi seorang pria, para pelacur adalah milik umum. Siapakah yang lebih malang dari mereka?. Mereka bisa membeli kebebasan, namun keluar dari rumah bordil bagi mereka bukan main sulitnya. Untuk pertama kali dalam sejarah, wanita dikuasai germo resmi. Para menejer rumahbordil, petugas pajak dan akhirnya dipucuk pemerintahan Solon yang ‘bijaj’, mengaruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Germo negara dan swasta lahir berbarengan.
LATIN, KETURUNAN PELACUR?
Perubahan klasik beasar kedua yang disukai para sarjana barat adalah Roma, yang oleh penulis Reay Tannahill disebut sebagai ‘bangunanyang sangat agung dan logis yang pernah diciptakan manusia’. Malai kota yang kecil pada abad ka-8 SM sampai manjadi kerajaan raksasa di abad ke-5 M, masyarakat dan kebudayaan bangsa romawi mempesona para penulis dan ilmuan yang mempelajari sejarah. Namun dibalik keagungan yang mereka kagumi itu, praktek- praktek sksual yang semena-mena terjadi, karena masyarakat bertindak semau gue.
Sebutan buruk itu saja tidak cukup, karena mencemoohkan setiap konsep moral atau adat seksual, dan menyimpang dari setiap norma yang pernah ada. Kebebasan untuk memiliki manusia (budak) dalam jumlah yang banyak membuat penguasa berbuat seliar-liarnya. Hal ini terjadi karena besarnya gelombang urban yang memasuki kota tersebut, sehungga jumlah penduduk waktu itu mencapai 2 ½ juta. Ini juga merangsang pertumbuhan pelacur dalam skala besar. Manusia murah, seks lebih murah lagi dan para bangsawan Romawi bertekad menikmati kedua ‘komoditi’ ini secara terang-terangan.
Penduduk romawi pada mulanya adalah petani, yang mengelompok dalam klan-klan. Sebutan bagi mereka semua: orang Latin, diambil dari ratu legendaries bangsa tersebut, Latia, menandakan bahwa klan-klan mereka adalah matriarkat. Menurut legenda negri romawi adalah warisan dari ibu klan bernama Acca Larentia. Yang menarik, Larentia ini digambarkan sebagai ‘pelacur yang terhormat’, yang memberi isyarat tentang adanya agama-dewidalam masyarakat pra sejarah Romawi. Ada kemungkinan, Larentia sang ibu-marga dan pemilik tanah, adalah pendeta tinggi dari agama tersegut. Dalam Romawi pra sejarah, seperti dalam kebudayaan-kebudayaan Laut Tengah lainnya, kekayaan dan kekuasaan beredar di tangan wanita. Para raja diberi hak memerintah melalui prkawinan dengan para wanita yang mewarisi tanah dan tahta. Di sini pula, pria berhasil menguasai wanita dengan mengambil alih kekuasaan dan melembagakan perkawinan patriarkat. Namun khusus Romawi, Rvolusi tersebut berlangsung keras dan mendadak. Selajutnya para penguasa pria memperkenalkan pula hukum-hukum patriarkat yang paling keras dalam sejarah purba. Seperti kaum pria Yunani kuno, para pria Romawi memonopoli kekuasaan pemilikan tanah dan tatanan-tatanan politik yang baru mereka bentuk. Tapi diRomawi, paterfamilias, yang secara harfiah berarti ‘bapak keluarga’’ memegang kekuasaan mutlak atas istri, anak-anak dan budak, sampai-sampai ia dibenarkan hukum untuk membunuh mereka tanpa takut ada campur tangan negara. Dalam masa Romawi kuno banyak contoh mengenai hal ini.
Namun, tidak seperti diYunani, para istri dari kelas berkuasa diRomawi tidak disekap di rumah atau diasingkan dari pergaulan. Mereka boleh keluar rumah dan berkeliaran di keramaian (meski harus dengan izin suami), menonton pertunjukan, mengunjungi kuil, dan lembaga-lembaga hukum. Mereka juga boleh mendapatkan pendidikan, biasanya melalui guru-guru privat dirumah keluarga. Tentu saja mereka lebih beruntung dari wanita-wanita yunani dan -agak ironis itu- terjadi di tengah masyarakat patriarkat. Sementara di Yunani, kelaspedagang berhasil melucuti para bangsawan, diRomawi masyarakat kelas atas ini tak pernah di usik. Karena itulah mereka membuat peraturan-peraturan bagi warga kota dan ini berlangsung sampai abad ke-4 M, sampai munculnya agama Kristen.
Dengan demikian kaum wanita Romawi mempunyai harga diri dan gairah hudup, sampai Kaisar Agustus memperkenalkan hukum yang memaksa wanita kelas atas menikah dan mengurus anak. Banyak diantara mereka yang menyatakan diri sebagai pelacur, demi membebaskan diri dari peraturan itu. Sedang wanita dari kelas rendah terus menentang aturan perkawinan model patriarkatitu, dan terus mampertahankan tradisi seksual warisan nenek moyang. Dalam sexsual life in Ancient Rome (Londan 1934), Otto kiefer menerangkan bahwa:’perkawinan sebagaiikatan persatuan memang tidak dikenal masyarakat awam, karena itulah anak-anak mereka milik ibu keluarga hubungan tanpa pernikahan, masih ada diRomawi pada masa belakangan ini, da menjadi dasar dalam system percintaan bebas yang berkembang luas, yang selanjutnya berubah menjadi pelacuran’.
Kenyataanya adalah lebih dari itu, kebijakan-kebijakan Romawi yang ekspansif menyababkan pekerja seks mengalir tanpa jeda. Penaklukan koloni-koloni baru menghasilkan ribuan tawanan yang kemudian menjadi budak. Perang juga menyababkan para petani kehilangan lahan, lalu mereka lari kekota menjadi buruh. Dalam hal tertentu ‘orang miskin yang bebas ini’ malah lebih menderita dari pada budak, yang mendapat penginapan dan makan karena di anggap sebagai modal oleh tuan mereka.
Bagi mantan petani, hidup di kota sangat sulit. Pengangguran bertambah, banyak dari mereka hanya bisa hidup dari pembagian gandum negara. Dalam keadaan inilah, tidak heran bila banyak diantara mereka yang menjadi pelacur untuk sekedar bertahan hidup. Meski demikian, mayoritas pekerja seks di Romawi bukanlah mereka yang mantan petani itu, tapi para budak (sebagaimana juga para pekerja di kota pada umumnya).
__________________


Reply With Quote