Menembus hari-hari yang cerah melewati celah-celah pegunungan
Kami mengukir di langit.. sebuah harapan tentang hasil akhir peperangan
Pada lumpur yang kuning, kami memberi minum pada kuda-kuda di tepi sungai yang kering kerontang
Ketika suara gemuruh bedug ditabuhkan untuk memulai perang
Kami mendengar rintihan tangis seorang putri raja, menyerukan keinginan untuk berdamai saja
Tiga ribu mil jauh dari kota..
Tidak ada apa-apa kecuali awan bergumpal
Sampai langit akhirnya tertutup dan salju pun turun
Hingga datang barbar liar, yang seolah terbang dari malam ke malam
Anak-anak pun kehabisan air mata untuk menangis
|