
1st June 2011
|
 |
Super Moderator
|
|
Join Date: Apr 2011
Posts: 3,914
Rep Power: 51
|
|
cont'd
Quote:
|
Originally Posted by 6. Yoh 19:30 Sudah selesai
Setelah prajurit memberikan bunga karang yang telah dicelupkan pada anggur asam, lalu Yesus meminumnya dan berkata sudah selesai (lih. Yoh 19:30). Kita dapat melihat adanya tiga hal yang berkaitan dengan sudah selesai. Di dalam Kitab Kejadian, setelah Tuhan menyelesaikan penciptaan, maka pada hari ke tujuh, Dia mengatakan Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan (finished His work) yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. (Kej 2:2) Dan Kitab Wahyu menuliskan Semuanya telah terjadi (it is done). Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. Ini berarti, penciptan dunia dan kemenangan di Sorga hanya dapat terjadi kalau pekerjaan yang dilakukan Yesus telah selesai. Dan dalam konteks inilah Yesus mengatakan sudah selesai untuk menyatakan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa dengan sempurna, bukan dengan keputusasaan dan kegetiran, namun dengan dasar kasih yang sempurna. Inilah yang membuat persembahan Kristus di kayu salib dapat menyenangkan hati Bapa yaitu karena didasarkan kasih yang sempurna.
Ini juga yang seharusnya mendorong kita dalam perjalanan kehidupan kita. Sama seperti Rasul Paulus, kita juga ingin berlari ke tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan Sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (lih. Flp 3:14).
|
Quote:
|
Originally Posted by 7. Luk 23:46 Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.
Kata yang terakhir dari Yesus setelah mengatakan sudah selesai adalah Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Dalam satu kalimat ini, kita dapat melihat hubungan yang sungguh dalam dan tak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Bapa begitu mencintai manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia (lih. Yoh 3:16). Kristus datang ke dunia dan senantiasa melaksanakan kehendak Bapa. Dari umur duabelas tahun, Kristus telah mengatakan bahwa Dia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (Luk 2:49). Dalam seluruh karya-Nya, Kristus senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada Bapa (lih. Yoh 8:29). Sampai pada akhirnya, Kristus menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Bapa (lih. Luk 23:46). Dengan kebebasan-Nya, Kristus melakukan kehendak Bapa.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita menggunakan kebebasan kita? Orang sering salah dalam mengartikan kebebasan. Orang sering mengartikan kebebasan sebagai kebebasan dari / freedom from dan bukan kebebasan untuk / freedom for. Kebebasan yang lebih menekankan kebebasan dari merupakan ekspresi akan keinginan yang terbebas dari hal-hal yang dianggap mengikatnya, termasuk tanggung jawab. Orang yang menginginkan kebebasan untuk minum minuman keras tanpa mau dibatasi jumlahnya, cepat atau lambat akan menemukan bahwa dirinya tidak lagi bebas. Dia akan terikat akan minuman keras, dan tidak lagi mempunyai kebebasan untuk mengatakan tidak terhadap minuman keras. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa mengumbar kebebasan tanpa adanya batasan yang jelas dapat membuat manusia menjadi tidak bebas lagi. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebebasan sebagai berikut: KGK, 1731. Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.
Dari definisi di atas, kita dapat melihat bahwa kebebasan seharusnya juga dibarengi dengan kebenaran ( truth) dan kebaikan ( good). Tanpa dibarengi dengan kebenaran dan kebaikan, maka kebenaran akan menjadi suatu tindakan yang tidak bertanggungjawab. Semakin tinggi kebenaran dan kebaikan itu, maka kebebasan itu akan semakin membebaskan. Karena tidak ada kebenaran dan kebaikan yang lebih tinggi dari Tuhan - sebab Tuhan adalah kebaikan dan kebenaran itu sendiri maka kebebasan sejati adalah kebebasan yang didasarkan atas ketentuan dari Tuhan. Kristus sendiri, sebagai jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) telah mengatakan bahwa kebenaran akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dengan demikian, dalam kata yang terakhir di kayu salib, Kristus telah menunjukkan bahwa Dia secara bebas menjalankan kehendak Bapa dan secara bebas memberikan nyawa-Nya untuk Bapa. Inilah kebebasan yang sejati.
Paus Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada kaum muda seluruh dunia pada tahun 1985 mengatakan And in this sphere Christs words: You will know the truth, and the truth will make you free, become an essential programme. Young people, one might say, have an inborn sense of truth. And truth must be used for freedom: young people also have a spontaneous desire for freedom. And what does it mean to be free? It means to know how to use ones freedom in truth-to be truly free. To be truly free does not at all mean doing everything that pleases me, or doing what I want to do. Freedom contains in itself the criterion of truth, the discipline of truth. To be truly free means to use ones own freedom for what is a true good. Continuing therefore: to be truly free means to be a person of upright conscience, to be responsible, to be a person for others.[ 3]
Mari, dalam Pekan Suci ini, kita merenungkan sejauh mana kita telah menggunakan kebebasan kita. Apakah kita telah menggunakan kebebasan kita dengan bertanggungjawab berdasarkan kebenaran dan kebaikan, sehingga dapat mengarahkan kita kepada keselamatan diri kita maupun membantu keselamatan orang-orang di sekitar kita? Jika kita telah mati dari dosa kita karena Sakramen Baptis yang kita terima, dan membuat kita dapat bangkit bersama Kristus, maka kita juga harus mengikuti teladan Kristus. Kita dapat menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin bebas untuk melaksanakan seluruh perintah Tuhan.
|
Melaksanakan tujuh pesan terakhir Yesus mengantar kita kepada keselamatan
Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa tujuh pesan terakhir Yesus sungguh penuh makna yang mendalam. Kalau kita terus merenungkan pesan-pesan ini sepanjang Pekan suci ini, maka kita akan semakin menghargai pengorbanan Yesus. Apapun kondisi kita, di Pekan suci ini, Kristus menawarkan pengampunan kepada kita semua. Bagi yang berdosa berat, segeralah mengaku dosa dan bagi yang berjuang dalam kekudusan, teruslah berfokus pada tujuan akhir. Yesus menginginkan agar semua manusia dapat sampai pada tujuan akhir, yaitu Sorga. Tidak ada kata terlambat. Sejauh kita masih hidup dan bertobat, sama seperti pencuri yang disalibkan di sisi kanan Yesus, maka Kristus akan memberikan janji yang sama, yaitu keselamatan kekal.
Demikian pula, Kristus menyerahkan Bunda-Nya menjadi Bunda segenap umat beriman, agar kita dapat memohon dukungan doanya agar dapat sampai kepada keselamatan. Tujuan akhir ini juga harus dihadapi dengan pengharapan akan Allah, sehingga pencobaan dan penderitaan tidak menjadikan kita perputus asa. Dalam perjalanan kita menuju Sorga, kita juga harus mempunyai semangat untuk membawa orang-orang di sekitar kita untuk memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Dan ini harus kita lakukan sampai akhir hidup kita, sampai tugas kita selesai dan sampai kita menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan Bapa. Dengan menjalankan pesan Kristus ini, maka kita dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat.
Semoga Trihari Suci membawa kita pada permenungan yang lebih mendalam akan misteri Paskah Kristus.
__________________
ﷲ ☯ ✡ ☨ ✞ ✝ ☮ ☥ ☦ ☧ ☩ ☪ ☫ ☬ ☭ ✌
Last edited by vals; 1st June 2011 at 12:32 PM.
|